Ketidakseimbangan antara Profit dan Sustainability: Tantangan Etis dan Strategis dalam Manajemen Modern
Rabu,08 Oktober 2025 - 23:04:38 WIBDibaca: 386 kali
Selama bertahun-tahun, paradigma utama bisnis selalu berpusat pada satu tujuan: profit maximization. Namun, di era disrupsi dan kesadaran global terhadap isu lingkungan serta sosial, paradigma tersebut mulai berubah.
Kini, perusahaan dihadapkan pada dilema besar: bagaimana menyeimbangkan antara pencapaian keuntungan (profit) dengan keberlanjutan (sustainability)?
Konsep keberlanjutan dalam manajemen bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan strategis. Menurut teori Triple Bottom Line (Elkington, 1997), keberhasilan organisasi seharusnya tidak hanya diukur dari laba (profit), melainkan juga dari kontribusi terhadap manusia (people) dan lingkungan (planet). Namun dalam praktiknya, banyak perusahaan masih terjebak pada orientasi jangka pendek—mengorbankan aspek sosial dan ekologis demi hasil finansial instan.
2. Paradigma Lama: Profit Sebagai Tujuan Tunggal
Dalam sistem ekonomi konvensional, keberhasilan bisnis diukur dari laba bersih dan pertumbuhan pasar. Akibatnya, keputusan manajerial sering kali mengabaikan dampak sosial dan ekologis.
Beberapa contoh konkret dapat dilihat pada:
-
Eksploitasi sumber daya alam tanpa perencanaan berkelanjutan,
-
Produksi massal yang menghasilkan limbah berlebihan,
-
Overworking culture di sektor industri yang mengabaikan kesejahteraan karyawan.
Paradigma ini berakar dari pemikiran klasik seperti Milton Friedman (1970) yang menyatakan bahwa “The social responsibility of business is to increase its profits.”
Namun, di tengah krisis iklim dan ketimpangan sosial global, teori tersebut mulai dianggap tidak relevan lagi tanpa dimensi moral dan keberlanjutan.
3. Paradigma Baru: Profit Melalui Sustainability
Kini muncul kesadaran bahwa sustainability bukan penghalang profit, melainkan jalan menuju profit jangka panjang.
Perusahaan seperti Unilever, Tesla, dan Danone menunjukkan bahwa praktik bisnis hijau dan beretika justru menciptakan keunggulan kompetitif baru.
Dalam konteks manajemen strategis, konsep ini dikenal sebagai Sustainable Competitive Advantage, yaitu kemampuan organisasi mempertahankan keuntungan dengan cara yang ramah lingkungan dan inklusif.
Contohnya:
-
Efisiensi energi melalui teknologi ramah lingkungan menurunkan biaya operasional,
-
Reputasi hijau (green branding) meningkatkan loyalitas konsumen,
-
Employee sustainability programs menurunkan turnover karyawan dan meningkatkan produktivitas.
Dengan demikian, integrasi sustainability bukan sekadar compliance, tetapi menjadi bagian dari strategic value creation.
4. Ketidakseimbangan Profit–Sustainability dalam Praktik
Meskipun teori sudah bergeser, dalam praktiknya ketidakseimbangan masih sering terjadi. Terdapat tiga bentuk utama ketidakseimbangan antara profit dan sustainability:
a. Short-Termism (Orientasi Jangka Pendek)
Banyak manajer masih fokus pada target kuartalan, bukan visi jangka panjang. Tekanan dari pemegang saham dan kompetisi pasar mendorong mereka memprioritaskan keuntungan cepat.
b. Greenwashing
Beberapa organisasi hanya menggunakan label “hijau” untuk tujuan pemasaran tanpa benar-benar melakukan praktik berkelanjutan. Misalnya, kampanye CSR yang tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat.
c. Ketimpangan Struktural dan Kebijakan
Tidak semua sektor memiliki dukungan regulasi atau insentif yang memadai untuk investasi hijau. Akibatnya, perusahaan kecil atau UMKM sering kesulitan mengadopsi praktik berkelanjutan karena keterbatasan biaya.
5. Perspektif Manajemen terhadap Dilema Profit dan Sustainability
Dari kacamata ilmu manajemen, ketidakseimbangan ini bisa dijelaskan melalui beberapa perspektif teoritis:
-
Agency Theory vs Stakeholder Theory
-
Agency theory menempatkan manajer sebagai agen yang bertugas memaksimalkan keuntungan pemilik modal.
-
Stakeholder theory (Freeman, 1984) menegaskan bahwa organisasi juga memiliki tanggung jawab terhadap karyawan, pelanggan, masyarakat, dan lingkungan.
Ketegangan antara kedua teori ini menjelaskan mengapa keseimbangan profit–sustainability sulit dicapai.
-
-
Corporate Governance dan Etika Bisnis
Manajemen modern menuntut tata kelola yang berlandaskan etika dan transparansi. Perusahaan yang mengabaikan sustainability berisiko kehilangan kepercayaan publik dan investor. -
Change Management dan Organizational Culture
Untuk mencapai keberlanjutan sejati, perubahan budaya organisasi sangat penting. Nilai keberlanjutan harus menjadi bagian dari core values, bukan hanya slogan pemasaran.
6. Studi Kasus Indonesia: UMKM Hijau dan Tantangannya
Di Indonesia, banyak UMKM mulai bertransformasi menuju praktik berkelanjutan. Contohnya, produsen kerajinan dari bahan daur ulang di Yogyakarta dan usaha pertanian organik di Jawa Timur.
Namun, mayoritas masih menghadapi tiga kendala besar:
-
Keterbatasan akses teknologi ramah lingkungan,
-
Kurangnya pengetahuan manajerial tentang SDGs dan green business,
-
Minimnya dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan.
Di sinilah peran lembaga pendidikan seperti Magister Manajemen Untag Surabaya menjadi penting—untuk mendidik calon manajer dan wirausahawan yang tidak hanya profit-oriented, tetapi juga sustainability-driven.
7. Strategi Menyeimbangkan Profit dan Sustainability
Untuk menjembatani ketimpangan tersebut, diperlukan strategi manajerial yang sistematis:
-
Integrasi SDGs dalam Perencanaan Strategis
Menjadikan indikator keberlanjutan (seperti efisiensi energi, dampak sosial, dan inklusivitas) sebagai bagian dari KPI organisasi. -
Inovasi Berbasis Green Economy
Mengembangkan produk dan layanan ramah lingkungan yang memberi nilai tambah ekonomi dan sosial. -
Pendidikan dan Kepemimpinan Humanis
Pemimpin masa depan perlu memahami bahwa profit tidak berarti apa-apa tanpa keberlanjutan. Kampus memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ini sejak dini. -
Kolaborasi Triple Helix
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri diperlukan untuk menciptakan ekosistem bisnis berkelanjutan di tingkat nasional maupun lokal.
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya