Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dari Perspektif Ilmu Manajemen

Rabu,08 Oktober 2025 - 23:07:16 WIB
Dibaca: 216 kali

Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8 menekankan pentingnya pekerjaan layak (decent work) dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam konteks ilmu manajemen, isu ini bukan sekadar persoalan ekonomi makro, tetapi juga berkaitan erat dengan strategi organisasi, inovasi manajerial, serta kepemimpinan beretika. Tantangan global seperti digitalisasi, disrupsi industri, dan gig economy menuntut pendekatan manajemen yang adaptif terhadap perubahan pasar tenaga kerja.


Dimensi Manajerial dalam SDG 8

Terdapat tiga dimensi utama yang dapat dilihat melalui kacamata manajemen:

  1. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kualitas Pekerjaan
    Manajemen modern harus mengedepankan kesejahteraan, keamanan kerja, serta keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance). Prinsip SDG 8 mendorong HR Manager untuk mengimplementasikan Human-Centered Management, yang memandang karyawan sebagai mitra strategis, bukan sekadar faktor produksi.

    Contoh penerapan:

    • Perusahaan BUMN dan startup teknologi di Indonesia mulai menerapkan employee well-being program dan skema kerja fleksibel.

    • Adopsi remote work system pasca-pandemi membuka akses bagi pekerja dari daerah non-metropolitan.

  2. Inovasi Bisnis dan Pertumbuhan Berkelanjutan
    Perspektif manajemen strategis menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan inovasi dan keberlanjutan. Konsep Shared Value (Porter & Kramer, 2011) menjadi panduan bagi organisasi agar menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

    Misalnya, UMKM binaan kampus dan inkubator bisnis di Surabaya mulai mengintegrasikan prinsip circular economy dalam rantai pasokannya, seperti penggunaan bahan baku ramah lingkungan dan digitalisasi produksi.

  3. Kewirausahaan Inklusif dan Ketahanan Ekonomi
    SDG 8 juga mendorong tumbuhnya kewirausahaan yang berkeadilan. Dalam konteks manajemen kewirausahaan, ini berarti membangun ekosistem bisnis yang membuka peluang bagi kelompok rentan — seperti perempuan, disabilitas, dan masyarakat desa.

    Di Indonesia, banyak kampus termasuk Untag Surabaya berperan aktif dalam membina mahasiswa untuk menjadi sociopreneur, menggabungkan profit dan misi sosial sebagai bentuk nyata implementasi SDG 8.


Tantangan Implementasi di Lapangan

Meskipun SDG 8 diadopsi secara luas, terdapat sejumlah hambatan manajerial:

  • Kesenjangan digital dan literasi ekonomi di kalangan tenaga kerja muda.

  • Fokus profit jangka pendek yang masih mendominasi strategi perusahaan.

  • Kurangnya pelatihan kewirausahaan berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Triple Helix (Kampus – Industri – Pemerintah) agar kebijakan SDG 8 tidak hanya menjadi wacana, tetapi terimplementasi dalam strategi bisnis dan pendidikan tinggi.


Kesimpulan

SDG 8 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan martabat manusia. Dalam perspektif ilmu manajemen, keberhasilan implementasi tujuan ini ditentukan oleh bagaimana organisasi membangun sistem kerja yang etis, inklusif, dan inovatif. Kampus, khususnya program Magister Manajemen, memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai kepemimpinan berkelanjutan (sustainable leadership) kepada calon pemimpin masa depan.


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya