Pengaruh Perceived Value dan Destination Image terhadap Kekuatan Brand Pariwisata
Kamis,02 Oktober 2025 - 14:31:13 WIBDibaca: 198 kali
Membangun brand pariwisata yang kuat memerlukan pemahaman mendalam terhadap persepsi nilai (perceived value) pengunjung dan citra destinasi (destination image). Perceived value mencerminkan perbandingan antara manfaat yang dirasakan wisatawan dengan biaya—baik uang, waktu, maupun upaya—yang mereka keluarkan. Destination image menggambarkan keseluruhan kesan yang terbentuk di benak calon wisatawan melalui aspek kognitif (fasilitas, atraksi) dan afektif (perasaan, emosi). Keduanya secara simultan mempengaruhi loyalitas pengunjung, word-of-mouth positif, dan daya saing destinasi di pasar global.
1. Konsep Perceived Value dalam Pariwisata
Perceived value bukan sekadar harga tiket atau paket perjalanan, melainkan hasil evaluasi subyektif wisatawan atas:
-
Manfaat fungsi, seperti kualitas akomodasi, kemudahan transportasi, dan keunikan atraksi.
-
Manfaat emosional, termasuk kebahagiaan, relaksasi, dan kebanggaan sosial.
-
Manfaat pandemi-safety, yakni keyakinan terhadap standar protokol kesehatan serta keamanan sanitasi.
Penelitian Chen dan Phou (2013) membuktikan bahwa perceived value berpengaruh langsung pada keputusan kembali berkunjung dan rekomendasi kepada orang lain. Artinya destinasi yang mampu memberikan pengalaman bernilai tinggi—misalnya pemandangan asli, kuliner khas, dan layanan ramah—akan meningkatkan citra positif brand secara signifikan.
2. Dimensi Destination Image
Destination image terdiri atas dua dimensi utama:
-
Dimensi kognitif, mencakup atribut rasional seperti infrastruktur transportasi, fasilitas penginapan, dan ketersediaan informasi.
-
Dimensi afektif, melibatkan perasaan positif atau negatif melalui unsur budaya lokal, keramahan masyarakat, dan suasana alam.
Louise et al. (2018) menunjukkan bahwa dimensi afektif memiliki dampak lebih kuat pada loyalitas jangka panjang, sedangkan dimensi kognitif berperan pada tahap awal pertimbangan destinasi.
3. Interaksi Perceived Value dan Destination Image
Perceived value dan destination image saling memperkuat dalam membentuk brand equity destinasi. Ketika wisatawan mengekspektasikan citra destinasi tinggi—misalnya eksotisme Bali atau keaslian Raja Ampat—mereka bersedia membayar premi harga dan menginvestasikan lebih banyak waktu. Sebaliknya, pengalaman bernilai tinggi akan memperdalam citra positif dan menanamkan storytelling kuat di benak wisatawan.
4. Studi Kasus: Brand “Labuan Bajo”
Labuan Bajo mengalami transformasi citra dari kota nelayan menjadi destinasi superprioritas. Strategi pemerintah dan pelaku wisata meliputi:
-
Peningkatan aksesibilitas, seperti rute penerbangan langsung dan dermaga kapal cepat.
-
Standarisasi homestay dan resort berkelas bintang untuk menjawab ekspektasi premium.
-
Festival budaya dan eco-tourism, yang menggabungkan sensasi petualangan dengan edukasi lingkungan.
Hasil riset local tourism board mencatat peningkatan perceived value rata-rata 4,2 dari skala 5 dan pertumbuhan kunjungan 35% dalam dua tahun. Citra Labuan Bajo sebagai “gateway ke Taman Nasional Komodo” kian menguat, mendorong peningkatan brand awareness global dan kemitraan lintas negara.
5. Pengaruh pada Loyalitas dan Word-of-Mouth
Loyalitas wisatawan terbentuk saat ekspektasi citra destinasi terkonfirmasi dalam pengalaman bernilai tinggi. Wisatawan loyal tidak hanya kembali, tetapi juga berfungsi sebagai brand advocate, membagikan testimoni di media sosial dan platform ulasan. Menurut studi Islam et al. (2020), 62% keputusan wisatawan selanjutnya dipengaruhi oleh rekomendasi teman atau influencer, sehingga word-of-mouth menjadi salah satu indikator kepercayaan tertinggi.
6. Strategi Meningkatkan Perceived Value dan Destination Image
A. Personalisasi Pengalaman
Segmentasi berdasarkan demografi dan preferensi—petualangan keluarga, honeymoon, atau wisata budaya—memungkinkan penawaran paket tailor-made yang meningkatkan perceived value.
B. Digital Storytelling dan Content Marketing
Konten visual berkualitas tinggi dan narasi menarik di situs resmi, media sosial, dan virtual tour membangun citra destinasi selama fase pertimbangan.
C. Kolaborasi dengan Komunitas Lokal
Melibatkan masyarakat setempat dalam penyediaan homestay, kuliner, dan atraksi budaya mempromosikan authenticity dan memperkuat dimensi afektif citra destinasi.
D. Pelaporan Keberlanjutan
Sertifikasi ramah lingkungan (Eco-Label) dan pelaporan ESG destinasi meningkatkan perceived value bagi wisatawan yang peduli keberlanjutan, sekaligus memperbaiki reputasi brand.
E. Edukasi Pra-Keberangkatan
Webinar, e-brochure, dan chatbot interaktif memberikan informasi lengkap tentang budaya, cuaca, dan protokol kesehatan, membangun destination image positif sebelum kedatangan.
7. Rekomendasi bagi Pemangku Kebijakan dan Manajer
-
Gunakan survei terstruktur untuk memantau percep tion wisatawan terhadap atribut nilai dan citra destinasi setiap kuartal.
-
Bangun dashboard real-time analytics mengintegrasikan data ulasan online, media sosial, dan sistem tiket untuk mengukur brand sentiment.
-
Rancang program pelatihan hospitality berbasis nilai lokal dan standar internasional agar layanan karyawan konsisten mendukung perceived value.
-
Optimalisasi SEO destinasi dengan kata kunci “value for money”, “authentic experience”, dan “safe tourism” untuk meningkatkan visibilitas di mesin pencari.
-
Implementasikan model Genius Loci (jiwa tempat) dalam storytelling agar brand destinasi terasa unik dan sulit ditiru.
8. Kesimpulan
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya