Penggunaan IoT untuk Monitoring Suhu dan Kelembapan di Cold Storage

Rabu,22 Oktober 2025 - 08:39:30 WIB
Dibaca: 131 kali

Teknologi Internet of Things (IoT) telah merevolusi sistem monitoring cold storage di Indonesia, khususnya untuk menjaga kualitas produk pangan, farmasi, dan hasil laut. Dengan sensor suhu dan kelembapan seperti DHT22 yang terhubung ke mikrokontroler berbasis ESP8266 (Wemos D1 R2), data lingkungan cold storage dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi smartphone seperti Blynk atau dashboard web. Sistem ini memungkinkan operator untuk menerima notifikasi otomatis jika suhu melebihi ambang batas (misal di atas 5°C), sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan sebelum produk rusak.?

Studi kasus di PT Mutiara Bahari Bantul dan PT Aerofood ACS Denpasar menunjukkan bahwa sistem monitoring berbasis IoT mampu mengirimkan data suhu dan kelembapan ke Google Spreadsheet setiap menit, mengurangi kebutuhan pencatatan manual, dan meningkatkan akurasi pengawasan. Sensor PIR juga dapat mendeteksi pergerakan staf di dalam cold storage, sehingga pintu yang tidak tertutup rapat dapat segera diketahui dan diatasi.?

Keunggulan utama sistem ini:

  • Pemantauan suhu dan kelembapan secara otomatis dan real-time.?

  • Notifikasi ke smartphone atau email jika terjadi anomali suhu.?

  • Data historis tersimpan di cloud, memudahkan audit dan analisis kualitas produk.?

  • Efisiensi operasional, mengurangi risiko human error dan kerusakan produk.?

Sistem monitoring IoT juga dapat diintegrasikan dengan dashboard web, Telegram, WhatsApp, atau email untuk notifikasi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dengan teknologi ini, cold storage di Indonesia menjadi lebih cerdas, efisien, dan mampu menjaga kualitas produk secara optimal di era Industri 5.0.


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya