Revitalisasi Desa Wisata Bahari Berbasis Triple Helix di Desa Bangsring, Banyuwangi

Kamis,09 Oktober 2025 - 07:26:51 WIB
Dibaca: 342 kali

Sektor pariwisata bahari menjadi salah satu penggerak utama ekonomi lokal di Indonesia, terutama di wilayah pesisir. Namun, banyak desa wisata bahari menghadapi tantangan seperti degradasi lingkungan, rendahnya literasi digital, dan lemahnya manajemen bisnis wisata. Salah satu contoh keberhasilan revitalisasi berbasis kolaborasi adalah Desa Wisata Bahari Bangsring, Banyuwangi, yang menerapkan model Triple Helix sebagai pendekatan integratif antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, dan inovatif.


 

Konsep Triple Helix (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000) menggambarkan hubungan sinergis antara:

  1. Pemerintah (Government) sebagai fasilitator regulasi dan kebijakan pembangunan.

  2. Akademisi (University) sebagai sumber pengetahuan, penelitian, dan inovasi.

  3. Industri (Business) sebagai pelaku penerapan inovasi dan penggerak ekonomi lokal.

Dalam konteks revitalisasi desa wisata bahari, kolaborasi ini memungkinkan adanya transformasi dari model wisata eksploitatif menuju model wisata berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir.


Profil dan Potensi Desa Bangsring, Banyuwangi

Desa Bangsring dikenal dengan Bangsring Underwater (Bunder)—ikon wisata bahari yang menonjolkan konservasi terumbu karang dan wisata snorkeling edukatif. Sebelum penerapan Triple Helix, kawasan ini menghadapi permasalahan seperti:

  • Rusaknya ekosistem laut akibat penangkapan ikan menggunakan bom.

  • Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata.

  • Keterbatasan inovasi dalam promosi dan diversifikasi produk wisata.

Revitalisasi berbasis Triple Helix menjadi solusi untuk membangun kembali ekosistem sosial, ekonomi, dan lingkungan secara simultan.


Penerapan Triple Helix dalam Revitalisasi Desa Wisata Bangsring

1. Peran Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kelautan dan Pariwisata berperan dalam:

  • Menetapkan kebijakan perlindungan kawasan laut konservasi.

  • Menyediakan bantuan infrastruktur seperti dermaga apung dan pusat informasi wisata.

  • Mendorong digitalisasi promosi melalui platform Smart Tourism Banyuwangi.

2. Peran Akademisi

Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan Politeknik Negeri Banyuwangi aktif dalam:

  • Penelitian konservasi laut dan pengelolaan berkelanjutan.

  • Pendampingan masyarakat pesisir untuk pengelolaan wisata berbasis komunitas (community-based tourism).

  • Pengembangan sistem reservasi online dan pelatihan pemasaran digital untuk UMKM pesisir.

3. Peran Industri

Sektor swasta seperti operator selam, perusahaan travel, dan hotel di Banyuwangi turut berperan melalui:

  • Investasi fasilitas wisata ramah lingkungan.

  • Kolaborasi dengan masyarakat lokal dalam pengelolaan transportasi laut dan jasa wisata.

  • Dukungan branding bersama melalui kampanye “Save Our Sea, Visit Bangsring”.


Tahapan Revitalisasi Desa Wisata Berbasis Triple Helix

Model revitalisasi di Bangsring dilakukan melalui empat tahapan sistematis:

  1. Assessment & Diagnosis
    Identifikasi potensi alam dan sosial serta pemetaan masalah lingkungan laut.

  2. Formulasi Kolaborasi
    Pembentukan forum komunikasi antara pemerintah, akademisi, dan industri.

  3. Implementasi Inovasi
    Pelaksanaan program konservasi laut, edukasi wisata, dan digitalisasi layanan.

  4. Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan
    Monitoring kualitas ekosistem, jumlah kunjungan wisatawan, dan pertumbuhan ekonomi lokal.


 

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Banyuwangi (2023), penerapan Triple Helix di Bangsring memberikan hasil signifikan:

  • Kenaikan jumlah wisatawan sebesar 63% dalam dua tahun terakhir.

  • Peningkatan pendapatan masyarakat pesisir hingga 52% melalui diversifikasi usaha (kuliner laut, jasa sewa alat selam, dan homestay).

  • Pemulihan ekosistem laut dengan pertumbuhan terumbu karang baru mencapai 70% dari kondisi awal.

  • Adopsi digital marketing oleh UMKM wisata meningkat 80% berkat pelatihan akademisi.


 

Model Triple Helix menciptakan ekosistem kolaboratif yang mempertemukan kepentingan ekonomi dan konservasi lingkungan.

  • Pemerintah menjadi policy enabler, memastikan arah pembangunan ramah lingkungan.

  • Akademisi berperan sebagai knowledge producer, menciptakan inovasi sosial dan teknologi.

  • Industri bertindak sebagai value creator, menerjemahkan ide menjadi peluang bisnis nyata.

Sinergi ini membentuk inkubasi wisata bahari berkelanjutan yang mampu memperkuat daya saing daerah sekaligus menjaga kearifan lokal masyarakat pesisir.


 

Revitalisasi Desa Wisata Bahari Bangsring, Banyuwangi, melalui pendekatan Triple Helix membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci pembangunan pariwisata berkelanjutan. Keberhasilan ini tidak hanya menghidupkan kembali ekonomi pesisir, tetapi juga memperkuat kesadaran ekologis dan inovasi masyarakat desa.
Model ini dapat direplikasi di wilayah bahari lain di Indonesia sebagai best practice pembangunan desa wisata berbasis sinergi dan keberlanjutan.


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya