Sinergi Triple Helix dalam Penguatan Branding Desa Wisata Bejijong, Mojokerto
Rabu,08 Oktober 2025 - 23:14:54 WIBDibaca: 139 kali
Desa Bejijong di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dikenal sebagai desa wisata budaya Majapahit yang memiliki potensi sejarah, seni, dan arsitektur khas masa lampau. Keunikan ini menjadikannya destinasi unggulan di sektor pariwisata budaya. Namun, seperti banyak desa wisata lainnya, Bejijong menghadapi tantangan dalam hal branding, promosi digital, dan profesionalisme pengelolaan wisata.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor yang mampu mengintegrasikan ilmu, kebijakan, dan inovasi bisnis. Di sinilah peran model Triple Helix — kolaborasi antara Kampus, Industri, dan Pemerintah — menjadi strategi manajerial yang relevan untuk memperkuat daya saing dan identitas destinasi wisata.
Konsep Triple Helix dalam Pengembangan Pariwisata
Model Triple Helix (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000) menempatkan tiga aktor utama sebagai motor penggerak inovasi:
-
Kampus sebagai sumber pengetahuan dan riset.
-
Industri sebagai pelaksana inovasi dan penggerak ekonomi.
-
Pemerintah sebagai fasilitator, regulator, dan penyedia kebijakan publik.
Dalam konteks desa wisata, kolaborasi ini menciptakan ekosistem sinergis antara pengetahuan, teknologi, dan kebijakan untuk mendorong keberlanjutan (sustainability) sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Peran Kampus: Knowledge Sharing dan Digital Empowerment
Perguruan tinggi, seperti Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berperan dalam meningkatkan kompetensi SDM di Bejijong melalui program pengabdian masyarakat dan kuliah kerja nyata (KKN).
Kegiatan meliputi:
-
Pelatihan digital marketing dan storytelling heritage untuk pengelola wisata.
-
Pendampingan dalam pembuatan konten promosi berbasis media sosial seperti Instagram dan TikTok.
-
Penerapan konsep brand identity berbasis nilai budaya Majapahit, misalnya melalui logo, tagline, dan visual komunikasi yang menggambarkan kemegahan sejarah.
Dari sudut pandang manajemen strategis, peran kampus menjadi sangat penting sebagai center of innovation yang membantu masyarakat desa mentransformasi nilai budaya menjadi aset ekonomi kreatif.
Peran Industri: Dukungan Finansial dan Promosi Kolaboratif
Industri berperan memperkuat sisi komersial dan keberlanjutan ekonomi destinasi. Kolaborasi antara pelaku pariwisata lokal, travel agent, dan sektor F&B (Food and Beverage) menghasilkan peluang promosi terpadu.
Contohnya, industri kreatif lokal membuat produk suvenir bertema Majapahit, seperti batik, miniatur candi, dan kuliner khas, yang dijual sebagai bagian dari paket wisata.
Selain itu, dukungan industri perhotelan dan transportasi juga memperluas jaringan pemasaran wisata Bejijong, menjadikannya bagian dari jalur wisata sejarah Mojokerto–Trowulan–Majapahit.
Dalam kerangka manajemen pemasaran, ini adalah bentuk co-branding strategy, di mana sinergi antara berbagai pihak meningkatkan brand equity destinasi.
Peran Pemerintah: Regulasi, Infrastruktur, dan Fasilitasi Ekosistem
Pemerintah Kabupaten Mojokerto berperan penting melalui kebijakan pengembangan kawasan wisata budaya dan pelestarian situs cagar budaya.
Program seperti Desa Wisata Mandiri dan Festival Majapahit merupakan bentuk dukungan konkret pemerintah dalam memperkuat positioning Bejijong di sektor pariwisata nasional.
Selain itu, pemerintah menyediakan infrastruktur seperti jalan akses, papan informasi digital, dan sistem ticketing berbasis QR Code yang memudahkan wisatawan dalam berkunjung.
Dari perspektif manajemen publik, peran pemerintah ini berfungsi sebagai enabler yang memastikan ekosistem Triple Helix berjalan harmonis dan berkelanjutan.
Integrasi Triple Helix: Manajemen Kolaboratif dalam Aksi
Kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah menciptakan dampak yang signifikan terhadap branding Bejijong:
-
Meningkatnya awareness dan engagement digital melalui promosi daring.
-
Tumbuhnya UMKM berbasis budaya lokal seperti pengrajin relief dan kuliner khas Majapahit.
-
Adanya event pariwisata tahunan yang memperkuat identitas Bejijong sebagai “Living Heritage of Majapahit.”
Model kolaboratif ini menggambarkan penerapan nyata teori strategic management dan stakeholder collaboration, di mana keberhasilan desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakatnya.
Tantangan dan Arah Pengembangan ke Depan
Meskipun sinergi Triple Helix telah menunjukkan hasil positif, beberapa tantangan tetap perlu diperhatikan:
-
Keterbatasan literasi digital di kalangan masyarakat pengelola wisata.
-
Belum optimalnya manajemen data wisata untuk analisis tren pengunjung.
-
Perluasan jaringan kerja sama dengan startup pariwisata nasional.
Ke depan, Bejijong dapat mengembangkan Smart Tourism System, mengintegrasikan Internet of Things (IoT) untuk manajemen kunjungan, pelacakan wisatawan, hingga analisis kepuasan pelanggan.
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya