Strategi Kampus Humanis di Era Digital: Untag Surabaya dan Nilai Merah Putih dalam Kepemimpinan Pendidikan
Rabu,08 Oktober 2025 - 22:54:58 WIBDibaca: 121 kali
ransformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menegaskan posisinya sebagai kampus humanis berjiwa Merah Putih — tempat di mana teknologi tidak menggantikan nilai kemanusiaan, tetapi justru memperkuatnya.
Sebagai kampus yang berkomitmen pada pendidikan berkarakter dan berbasis nilai nasionalisme, Untag Surabaya membangun strategi kepemimpinan pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan digital, tetapi juga empati, etika, dan tanggung jawab sosial.
1. Makna Kampus Humanis di Era Digital
Kampus humanis adalah lembaga pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.
Dalam konteks era digital, pendekatan ini berarti mengintegrasikan teknologi untuk memperkuat dimensi kemanusiaan—bukan menggantikannya.
Bagi Untag Surabaya, kampus humanis adalah ruang tempat mahasiswa dan dosen berinteraksi, berinovasi, dan berempati dalam bingkai nilai-nilai Merah Putih, yaitu:
-
Kemandirian dalam berpikir
-
Keadilan sosial dalam tindakan
-
Kebersamaan dalam kemajuan
Pendekatan ini menjadi ciri khas Untag dalam mengembangkan Magister Manajemen yang berorientasi pada leadership with value, bukan sekadar leadership with power.
2. Tantangan Kepemimpinan Pendidikan di Era Digital
Kehadiran teknologi telah mempercepat proses pembelajaran dan memperluas akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru:
-
Dehumanisasi dalam interaksi akademik akibat pembelajaran daring yang minim koneksi emosional.
-
Pola kepemimpinan birokratis yang kurang responsif terhadap dinamika digital.
-
Tantangan menjaga nilai moral, empati, dan integritas di tengah budaya instan.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan humanis digital (human-centered leadership) — kepemimpinan yang menggabungkan kecepatan teknologi dengan kedalaman nilai kemanusiaan.
3. Strategi Humanis Untag Surabaya dalam Kepemimpinan Pendidikan
Sebagai institusi yang menjunjung tinggi nilai Merah Putih, Untag Surabaya mengembangkan beberapa strategi konkret untuk menjaga keseimbangan antara kemanusiaan dan digitalisasi:
a. Kurikulum Berbasis Nilai dan Kearifan Lokal
Magister Manajemen Untag Surabaya tidak hanya fokus pada ilmu manajemen modern, tetapi juga menanamkan value-based leadership, yaitu kepemimpinan yang berlandaskan etika, empati, dan nasionalisme.
b. Transformasi Digital Humanistik
Digitalisasi diterapkan tidak hanya untuk efisiensi administrasi, tetapi juga untuk memperluas akses pembelajaran yang inklusif. Teknologi digunakan untuk mendukung kolaborasi, bukan menggantikan interaksi sosial.
c. Penguatan Peran Dosen sebagai Mentorship
Dosen berperan bukan sekadar pengajar, melainkan mentor dan inspirator moral, yang menuntun mahasiswa dalam berpikir kritis dan bertindak etis di dunia kerja dan masyarakat.
d. Kegiatan Pengabdian Masyarakat Humanis
Melalui LPPM dan program magister, Untag menanamkan semangat servant leadership — kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
4. Integrasi Nilai Merah Putih dalam Kepemimpinan Kampus
Nilai Merah Putih bukan hanya simbol kebangsaan, melainkan fondasi moral bagi pengembangan kepemimpinan Untag.
Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, nilai tersebut diterjemahkan menjadi:
-
Merah (semangat perjuangan) → mencerminkan energi, keberanian, dan inovasi dalam menghadapi perubahan.
-
Putih (ketulusan dan integritas) → mencerminkan kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen terhadap keadilan sosial.
Kedua nilai ini membentuk model kepemimpinan transformatif khas Untag, yang menekankan keseimbangan antara kompetensi profesional dan nilai kemanusiaan.
5. Relevansi Strategi Humanis untuk Mahasiswa Magister Manajemen
Mahasiswa Magister Manajemen Untag Surabaya didorong untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Melalui kegiatan akademik, riset, dan proyek sosial, mereka belajar bahwa keberhasilan manajemen tidak hanya diukur dari laba atau efisiensi, tetapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan bagi manusia dan bangsa.
Kepemimpinan semacam ini menjadi relevan dalam dunia kerja modern, di mana perusahaan mulai menilai pemimpin berdasarkan empathy-driven leadership — kemampuan mengelola tim dengan hati, bukan sekadar otoritas.
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya