Triple Helix sebagai Model Pengembangan Desa Wisata Religi di Desa Leran, Gresik
Kamis,09 Oktober 2025 - 11:20:46 WIBDibaca: 319 kali
Desa Leran di Kabupaten Gresik dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi tertua di Jawa Timur. Di desa ini terdapat makam Syarifah Mudaim, atau yang dikenal sebagai Nyai Ageng Leran, tokoh perempuan penyebar Islam pada masa awal. Potensi sejarah dan spiritual inilah yang menjadikan Leran memiliki daya tarik religius yang kuat. Namun, agar potensi ini berkembang secara berkelanjutan, dibutuhkan sinergi antara berbagai pihak. Salah satu pendekatan yang efektif adalah model Triple Helix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha (industri).
Konsep Triple Helix dalam Pengembangan Desa Wisata
Model Triple Helix dikembangkan oleh Etzkowitz dan Leydesdorff (1995), yang menekankan pentingnya kolaborasi antara tiga aktor utama pembangunan:
-
Pemerintah (Government) – berperan sebagai regulator, fasilitator, dan pemberi arah kebijakan.
-
Akademisi (University) – berperan dalam riset, edukasi, serta pendampingan masyarakat.
-
Industri (Business) – berperan sebagai penggerak ekonomi melalui inovasi dan investasi.
Dalam konteks Desa Leran, penerapan Triple Helix dapat menciptakan sinergi yang berorientasi pada penguatan nilai religi, pelestarian budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Implementasi Triple Helix di Desa Leran
-
Peran Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Gresik dapat mengembangkan infrastruktur pendukung wisata religi seperti akses jalan, area parkir, dan pusat informasi ziarah. Selain itu, program pelatihan hospitality bagi warga lokal akan meningkatkan pengalaman wisatawan. -
Peran Akademisi
Perguruan tinggi, khususnya yang memiliki program studi pariwisata dan manajemen, dapat membantu dalam riset potensi wisata, pengelolaan digital marketing, serta penguatan branding Desa Leran sebagai pusat wisata religi bersejarah. Misalnya melalui pendampingan mahasiswa KKN tematik atau penelitian terapan. -
Peran Industri dan Pelaku Usaha
Sektor swasta, terutama UMKM lokal, bisa dilibatkan untuk menciptakan produk ekonomi kreatif seperti suvenir religi, kuliner khas, dan layanan homestay. Kolaborasi dengan platform digital juga dapat meningkatkan visibilitas Leran di ranah online, menjadikannya destinasi ziarah modern namun tetap berakar pada nilai spiritual.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Implementasi model Triple Helix memberikan dampak positif yang nyata:
-
Meningkatnya literasi ekonomi digital masyarakat desa.
-
Terbentuknya ekosistem wisata yang berkelanjutan, dengan peran aktif warga sebagai pelaku utama.
-
Terciptanya lapangan kerja baru di sektor wisata, kuliner, dan jasa pemandu religi.
-
Terpeliharanya identitas budaya Islam Jawa yang menjadi ciri khas Leran.
Kesimpulan
Penerapan model Triple Helix dalam pengembangan Desa Wisata Religi Leran merupakan strategi kolaboratif yang mampu menyatukan potensi lokal dengan dukungan akademik dan kebijakan pemerintah. Dengan sinergi yang kuat, Desa Leran tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga pusat pembelajaran budaya, ekonomi kreatif, dan spiritualitas Nusantara.
Inovasi berbasis kolaborasi inilah yang dapat menjadikan Leran sebagai contoh model desa wisata religi berkelanjutan di Indonesia.
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya